Selasa, 24 April 2018

anatomi teori sosial

materi ini adalah salah satu tugas yang diberikan oleh dosen yang tujuannya untuk mempermudah dalam menelaah berbagaimacam substansi teori
TEORI KLASIK:
         teori perkembangan/kemajuan (Auguste Comte), yang mendasarkan teori perkembangan pemikiran manusia, terkenal dengan  hukum tiga tahapnya (law three stage)  antara lain dimulai dengan tahap teologi (semua gejala dihasilkan oleh kekuatan gaib atau supranatural), metafisik(kekuatan yang metafisik yang didasarkan atas hukum alam), dan positivistic (didasarkan pada hukum alamiah akal budi manusia dikendalikan oleh rasionalitas didukung oleh data empiris).  
         teori siklus perubahan budaya (pitirim Sorokin), yang  inti dari pada teorinya mengatakan tahap-tahap sejarah cenderung berulang menurutnya perubahan tidak bergerak secara linear tetapi melingkar, dimana perubahan merujuk pada mentalitas budaya yaitu dimulai dari : pertama tahap ideasional menekan pada aspek ritual dan non material,  tahap kedua kultul sensate/inderawi menekankan pada aspek material dan kesenangan lahiriah, dan tahap cultural campuran yang hadir untuk menyeimbangkan keduanya.
         teori integrasi/solidaritas sosial (Emile Durkheim). Durkheim dalam melihat masyarakat yang terintegrasi membagi  dua tipe solidaritas sosial dalam masyarakat yaitu solidaritas mekanis  dan solidaritas organis. Solidaritas mekanik cenderung pada masyarakat yang memiliki ikatan kerjasama kuat biasanya ada di pedesaan sedangkan solidaritas organic lebih mewakili pada masyarakat kota yang lebih individualis dan tidak erat kerjasamanya.
         teori konflik/ pertentangan kelas (Karl Marx), inti dari teori ini bahwa masyarakat terbagi dalam beberapa lapisan yang mendominasi, dalam pertentangan kelasnya ia membagi masyarakat dalam kelas-kelas sosial yaitu antara kelas pemilik modal (borjuis) dan ploletar selaku buruh pada masyarakat klasik, Konflik sosial yang dimaksud  pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebut suatu dianggap bernilai. Marx mengatakan bahwa potensi-potensi ko nflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise/status dan kekuasaan politik.
·               Teori Rasionalitas (Max Weber), dalam teorinya ia mengklasifikasi berbagai tipe tindakan sosial berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Ada 4 tipe tindakan sosial yaitu: tipe tindakan rasionalitas instrumental: mempertimbangkan alat-alat untuk nmencapai tujuannya, tindakan rasionalitas berorientasi nilai: yang mempertimbangkan nilai-nilai sosial yang telah lama dan diakui dalam masyarakat, tindakan tradisional: sebuah tindakan sosial yang dilakukan secara turun-temurun dari tradisi nenek moyang dan telah menjadi bagian yang teriinternalisasikan dalam masyarkat contoh adat istiadat, dan tindakan afektif tindakan: yang tidak dipertimbangkan terlebih dahulu dilakukan secara repleks dan lebih cenderung bersifat emosional.   
·               teori interaksi (George Simmel), menurut simel masyarakat adalah bentuk dari  interaksi sosial yang berpola seperti halnya jaring laba-laba. Masyarakat diibaratkan dari individu-individu yang kemudian saling berkaitan  dan akhirnya membentuk kelompok seperti analogi jaring laba-laba


TEORI MODERN:
      teori fenomenologi (Max Weber): mengenalkan sebuah ilmu yang mendasarkan pada pemahaman tindakan dengan metode verstehen sebuah tindakan yang bermakna yang memiliki motif oleh individu atau kelompok yang berupaya memahami fenomena sosial sebagaimana yang dipahami aktor.
      teori interaksionisme simbolik (George Herbert Mead), inti teori Mead mengenai kontruksi makna pikiran, diri dan masayarakat (mind, self, and society). Mind proses dimana individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dan lingkungannya dengan menggunakan symbol-simbol. Konsep self yang terdiri dimensi objek sebagai “me” dan dalam dimensi subjek “I”,  Konsep diri menurut George Herbert Mead, pada dasarnya terdiri dari jawaban individu atas pertanyaan "Siapa Aku". Konsep diri terdiri dari kesadaran individu mengenai keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung. Masyarakat telah ada sebelum individu dan proses berpikir muncul dari masyarakat bahwa dalam interaksi sosialnya individu telah mengolah tindakannya terlebih dahulu.
      teori dramaturgi  (Erving Goffman), teori peran mengambarkan sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia. Ada panggung depan (front stage), dan panggung bagian belakang (back stage).  Adanya pengandaian kehidupan sebagai panggung sandiwara, lengkap dengan setting panggung dan acting yang dilakukan oleh individu sebagai aktor kehidupan.
      teori etnometodologi (Harold Garfinkel), inti teorinya menunjukan adanya aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan akal sehat. Yang memusatkan perhatian pada organisai-organisasi kehidupan sehari-hari.
      teori pertukaran sosial (George Homans), teori pertukaran homans bertumpu pada asumsi bahwa orang terlibat dalam perilaku untuk memperoleh ganjaran atau menghidari hukuman. Tujuan dasar dari perilaku manusia adalah tujuan ekonomis untuk memperbesar keuntungan (profit), imbalan (reward) dan ganjaran seluruh fenomena sosil. Hubungan timbale balik merupakan int teorinya pertukaran sosial dibangun atas asumsi individulaistik yang dipengaruhi oleh psikologi perilaku dan ekonomi elementer.
      teori fungsional (Talcott Parsons), Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural (fungsionalisme tradisional), yaitu bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dimana integrasi dipandang sebagai suatu yang memungkinkan dapat dicapai dalam masyarakat secara luas (plural) dalam hal ini fungsional parson berskala macro. Integrasi dipandang secara sempurna,  Parson juga terkenal; dengan konsep AGIL.
      teori fungsionalisme-struktural (Merton), dalam fungsionalismenya memperkenalkan fungsi manifes dan fungsi laten dalam analisa fungsional. Fungsi manifes adalah konsekuensi obyektif yang membantu penyesuaian atau adaptasi dari sistem dan disadari oleh para parti
      sipan dalam sistem tersebut dan biasanya dapat disaksikan langsung di dalam masyarakat, sedang fungsi laten adalah fungsi yang tidak dimaksudkan atau tidak disadari.
      teori neo-fungsionalisme (Jeffrey C Alexander), teori pengembangan fungsionalisme baru yang merupakan hasil rekontruksi dari teori fungsionalisme structural parsons. Yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian saling berhubungan secara lebih sempit  dalam arti lebih spesifik (micro). Alexander tidak memandang integrasi itu secara sempurna sebagaimana pada parson.
      teori kritis (Karl Marx), marx terkenal dengan teori kritik ideologinya, teori kritik marx pada intinya mengritisi konsep ideologi para pendahulu pemikir kritik Kant  yang menolak kebenaran hanya pada rasio  empiris kemudian menawarkan rasionalitas empiris  berdasarkan pengalaman, sementara Hegel dengan rasio  kritis yaitu berdasarkan kebenaran yang dihasilkan dari  refleksi diri atas sebuah rintangan, hambatan yang dialami individu-individu  maka rasio akan menjadi kritis sebagaimana dalam pandangan hegel. Yang kemudian marx hadir mengritisi konsep idealism ideology pada kedua pemikir tersebut dengan konsep materialismenya, marx dalam kritikannya  yang inti dari kritikannya tak lain adalah usaha emansipasi membebaskan masyarakat dari aleniasi atau keterasingan yang diakibatkan oleh kekuasaan dalam masayrakat akan penguasaan alat produksi. Dalam hal ini konsep ideology Kant dan Hegel  secara tidak langsung dianggap tidak memberikan kontribusi  tindakan yang nyata bagi  masyarakat sehingga mengatakan dengan modal ekonomi dan penggunaan teknologi dapat membebaskan mereka dimulai ketika adanya revolusi perlawanan masyarakat datangnya pada kaum proletar yang  akhirnya menurut marx  tidak ada pendominasian dan penindasan sehingga tercipta masayarakat tanpa kelas (utopis). 
TEORI KONTEMPORER:
      teori Hegemoni (Gramsci), inti dari anti hegemoni gramsci menujuk pada suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya dimana antara rakyat dengan negara. Adanya perlawanan antara masyarakat dan pemerintah.
      teori strukturasi (Anthony Giddens),  menjelaskan dualitas dan hubungan diaklektis antara agensi dan struktur. Berfokus teori hubungan antara agensi dan struktur. Ada tiga gugus stuktur giddens yaitu diantaranya struktur signifikasi lebih kepada makna, nilai dan struktur dominasi merujuk kepada penguasaan atas orang lain. struktur legitimasi menujuk berdasarkan aturan normative peraturan undang-undang.
      teori pilihan rasional (Elster), inti rational choice elster adalah saat harus menghadapi beberapa jenis tindakan atau pilihan, adanya referensi ketika orang akan melakukan apa yang dianggap memberikan hasil terbaik diantara beberapa pilihan alternatif yang ada.
      teori konflik (Dahrendorf), Dia mengkritik Marx mengenai teori pembentukan kelas dan teori konflik kelasnya marx yang hanya relevan untuk tahap awal kapitalisme, bukan untuk masyarakat industri post-capitalist, Dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda: memiliki sisi konflik dan sisi kerjasama (kemudian dia menyempurnakan posisi ini dengan menyatakan bahwa segala sesuatu yang dapat dianalisa dengan fungsionalisme struktural dapat pula dianalisa dengan teori konflik dengan lebih baik), Di antara perubahan-perubahan itu ialah: (1) dekomposisi modal, (2) dekomposisi tenaga kerja, dan (3) timbulnya kelas menengah baru.
      teori post-modernism (Pierre Bourdieu, Michel Foucault, Derrida), teori yang muncul sebagai kritik akan modernisme yang mencoba mengeluarkan masyarakat dari ketertindasan para kaum strukturalis modernisme atau disebut dengan post-modernisme.  Sebuah perspektif  menggantikan realitas modern sebagaimana Derrida dengan teori dekontruksi bahasa dan institusi sosial  jika para kaum structuralis melihat individu  dikendalikan oleh struktur bahasa namun menurut derrida bahwa bahasa hanya sekedar tulisan yang bersifat tidak memaksa atau dekontruksi silogisentris bahwa tulisan bukanlah sebuah paksaan seperti yang dikatakan para kaum  strukturalisme. Dekontruksinya adalah melakukan pembongkaran pada sebuah kontruksi yang telah ada kemudian mentransformasikannya makna dengan cara dektruksi dan rekontruksi (dihancurkan lalu di tata kembali), Michel foucalt dengan keluasan pemikirannya salah satunya dengan karyanya the power of knowledge, dimana Michel foucalt adalah  seorang driving force post-positivisme  kritikannya pada teori pembangunan dan modernisme. Ia mengkritik kekuasaan tidak bisa dilokalisasikan, ia tidak memisahkan antara pengetahuan dan kekuasaan. Bourdie dengan teori strukturalis genetic nya yang menjembatani antara objektifitas dan subjektifitas melalui teori habitusnya yang inti dari teorinya Bourdieu berupaya menyatukan dimensi dualitas pelaku (agen) dan struktur. Oleh karena itu pendekatannya disebut strukturalisme genetic yakni analisis struktur-struktur objektif yang tidak dapat dipisahkan dari analisis asal usul struktur mental. Bahwa antara agen dan kebiasaan adalah unsure yang saling berkaitan.
      teori kritis (Jurgen Habermas), seorang ahli ritical teori yang terkenal dengan  rasionalitas tindakan komunikasi yang  mengkritisi  para teoritikus awal yang mengalami hambatan dalam telaah kritik teorinya yang melampaui para kaum neo-marxis dan sekaligus menolak gagasan para pemikir kalangan kaum marxis hanya melihat paksis  dalam arti tunggal yaitu kerja dan melupakan praksis komunikasi guna untuk mengatasi dominasi penguasa dalam lingkungan sosial. Dicapai melalui public sphere (ruang public). inti Rasionalitas yang bersifat komunikatif terletak di dalam kemampuan manusia untuk mencapai kesaling pengertian terhadap manusia lainnya yang implimentasinya dalam praktik dialog dan public untuk mencapai kesalingpengertian inilah dialetiaka tindakan rasionalitas komunikasi dari jurgen habermas.
      teori konstruksi sosial (Peter L Berger),  Peter L Berger terkenal dengan teori kontruksi sosialnya  yang teorinya menilai individu  dalam menentukan tindakannya adalah sebuah hasil dari kontruksi pemikiran dirinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anatomi teori sosial

materi ini adalah salah satu tugas yang diberikan oleh dosen yang tujuannya untuk mempermudah dalam menelaah berbagaimacam substansi teo...