materi ini adalah salah satu tugas yang diberikan oleh dosen yang tujuannya untuk mempermudah dalam menelaah berbagaimacam substansi teori
TEORI KLASIK:
•
teori perkembangan/kemajuan (Auguste Comte), yang
mendasarkan teori perkembangan pemikiran manusia, terkenal dengan hukum tiga tahapnya (law three stage) antara lain dimulai dengan tahap teologi
(semua gejala dihasilkan oleh kekuatan gaib atau supranatural), metafisik(kekuatan
yang metafisik yang didasarkan atas hukum alam), dan positivistic (didasarkan
pada hukum alamiah akal budi manusia dikendalikan oleh rasionalitas didukung
oleh data empiris).
•
teori siklus perubahan budaya (pitirim
Sorokin), yang inti dari pada teorinya mengatakan tahap-tahap
sejarah cenderung berulang menurutnya perubahan tidak bergerak secara linear
tetapi melingkar, dimana perubahan merujuk pada mentalitas budaya yaitu dimulai
dari : pertama tahap ideasional
menekan pada aspek ritual dan non material, tahap kedua kultul sensate/inderawi menekankan pada aspek material dan kesenangan
lahiriah, dan tahap cultural campuran
yang hadir untuk menyeimbangkan keduanya.
•
teori integrasi/solidaritas sosial (Emile
Durkheim). Durkheim dalam melihat masyarakat yang terintegrasi
membagi dua tipe solidaritas sosial
dalam masyarakat yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas mekanik
cenderung pada masyarakat yang memiliki ikatan kerjasama kuat biasanya ada di
pedesaan sedangkan solidaritas organic lebih mewakili pada masyarakat kota yang
lebih individualis dan tidak erat kerjasamanya.
•
teori konflik/ pertentangan kelas (Karl
Marx), inti dari teori ini bahwa masyarakat terbagi dalam beberapa lapisan yang
mendominasi, dalam pertentangan kelasnya ia membagi masyarakat dalam
kelas-kelas sosial yaitu antara kelas pemilik modal (borjuis) dan ploletar
selaku buruh pada masyarakat klasik, Konflik sosial yang dimaksud
pertentangan antara segmen-segmen
masyarakat untuk merebut suatu dianggap bernilai. Marx mengatakan bahwa
potensi-potensi ko nflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun
memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi
prestise/status dan kekuasaan politik.
·
Teori Rasionalitas (Max Weber), dalam
teorinya ia mengklasifikasi berbagai tipe tindakan sosial berhubungan dengan
pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Ada 4 tipe
tindakan sosial yaitu: tipe tindakan rasionalitas
instrumental: mempertimbangkan alat-alat untuk nmencapai tujuannya, tindakan rasionalitas berorientasi nilai:
yang mempertimbangkan nilai-nilai sosial yang telah lama dan diakui dalam
masyarakat, tindakan tradisional:
sebuah tindakan sosial yang dilakukan secara turun-temurun dari tradisi nenek
moyang dan telah menjadi bagian yang teriinternalisasikan dalam masyarkat
contoh adat istiadat, dan tindakan
afektif tindakan: yang tidak dipertimbangkan terlebih dahulu dilakukan
secara repleks dan lebih cenderung bersifat emosional.
·
teori interaksi (George Simmel), menurut
simel masyarakat adalah bentuk dari
interaksi sosial yang berpola seperti halnya jaring laba-laba.
Masyarakat diibaratkan dari individu-individu yang kemudian saling
berkaitan dan akhirnya membentuk
kelompok seperti analogi jaring laba-laba
TEORI MODERN:
•
teori fenomenologi (Max Weber): mengenalkan
sebuah ilmu yang mendasarkan pada pemahaman tindakan dengan metode verstehen
sebuah tindakan yang bermakna yang memiliki motif oleh individu atau kelompok
yang berupaya memahami fenomena sosial sebagaimana yang dipahami aktor.
•
teori interaksionisme simbolik (George
Herbert Mead), inti teori Mead mengenai kontruksi makna pikiran,
diri dan masayarakat (mind, self, and society). Mind proses dimana individu
berinteraksi dengan dirinya sendiri dan lingkungannya dengan menggunakan
symbol-simbol. Konsep self yang terdiri dimensi objek sebagai “me” dan dalam
dimensi subjek “I”, Konsep diri menurut George Herbert
Mead, pada dasarnya terdiri dari jawaban individu atas pertanyaan "Siapa
Aku". Konsep diri terdiri dari kesadaran individu mengenai keterlibatannya
yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung.
Masyarakat telah ada sebelum individu dan proses berpikir muncul dari
masyarakat bahwa dalam interaksi sosialnya individu telah mengolah tindakannya
terlebih dahulu.
•
teori dramaturgi (Erving Goffman), teori
peran mengambarkan sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia. Ada
panggung depan (front stage), dan panggung bagian belakang (back stage). Adanya pengandaian kehidupan sebagai panggung
sandiwara, lengkap dengan setting panggung dan acting yang dilakukan oleh
individu sebagai aktor kehidupan.
•
teori etnometodologi (Harold Garfinkel), inti
teorinya menunjukan adanya aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan
akal sehat. Yang memusatkan perhatian pada organisai-organisasi kehidupan
sehari-hari.
•
teori pertukaran sosial (George Homans), teori
pertukaran homans bertumpu pada asumsi bahwa orang terlibat dalam perilaku
untuk memperoleh ganjaran atau menghidari hukuman. Tujuan dasar dari perilaku
manusia adalah tujuan ekonomis untuk memperbesar keuntungan (profit), imbalan
(reward) dan ganjaran seluruh fenomena sosil. Hubungan timbale balik merupakan
int teorinya pertukaran sosial dibangun atas asumsi individulaistik yang
dipengaruhi oleh psikologi perilaku dan ekonomi elementer.
•
teori fungsional (Talcott Parsons), Asumsi dasar dari Teori
Fungsionalisme Struktural (fungsionalisme tradisional), yaitu bahwa masyarakat
terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai
kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan
sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional
terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dimana integrasi dipandang sebagai suatu
yang memungkinkan dapat dicapai dalam masyarakat secara luas (plural) dalam hal
ini fungsional parson berskala macro. Integrasi dipandang secara sempurna, Parson juga terkenal; dengan konsep AGIL.
•
teori
fungsionalisme-struktural (Merton), dalam fungsionalismenya memperkenalkan fungsi manifes dan fungsi laten
dalam analisa fungsional. Fungsi manifes adalah konsekuensi obyektif yang
membantu penyesuaian atau adaptasi dari sistem dan disadari oleh para parti
•
sipan dalam
sistem tersebut dan biasanya dapat disaksikan langsung di dalam masyarakat,
sedang fungsi laten adalah fungsi yang tidak dimaksudkan atau tidak disadari.
•
teori neo-fungsionalisme (Jeffrey C Alexander), teori
pengembangan fungsionalisme baru yang merupakan hasil rekontruksi dari teori
fungsionalisme structural parsons. Yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai
sebuah struktur dengan bagian-bagian saling berhubungan secara lebih sempit dalam arti lebih spesifik (micro). Alexander
tidak memandang integrasi itu secara sempurna sebagaimana pada parson.
•
teori
kritis (Karl Marx), marx terkenal dengan teori kritik
ideologinya, teori kritik marx pada intinya mengritisi konsep ideologi para
pendahulu pemikir kritik Kant yang
menolak kebenaran hanya pada rasio empiris
kemudian menawarkan rasionalitas empiris
berdasarkan pengalaman, sementara Hegel dengan rasio kritis yaitu berdasarkan kebenaran yang
dihasilkan dari refleksi diri atas
sebuah rintangan, hambatan yang dialami individu-individu maka rasio akan menjadi kritis sebagaimana dalam
pandangan hegel. Yang kemudian marx hadir mengritisi konsep idealism ideology
pada kedua pemikir tersebut dengan konsep materialismenya, marx dalam kritikannya
yang inti dari kritikannya tak lain
adalah usaha emansipasi membebaskan masyarakat dari aleniasi atau keterasingan
yang diakibatkan oleh kekuasaan dalam masayrakat akan penguasaan alat produksi.
Dalam hal ini konsep ideology Kant dan Hegel secara tidak langsung dianggap tidak
memberikan kontribusi tindakan yang
nyata bagi masyarakat sehingga
mengatakan dengan modal ekonomi dan penggunaan teknologi dapat membebaskan
mereka dimulai ketika adanya revolusi perlawanan masyarakat datangnya pada kaum
proletar yang akhirnya menurut marx tidak ada pendominasian dan penindasan sehingga
tercipta masayarakat tanpa kelas (utopis).
TEORI KONTEMPORER:
•
teori Hegemoni (Gramsci), inti dari
anti hegemoni gramsci menujuk pada suatu kekuasaan atau dominasi atas
nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang
akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana
kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya dimana antara
rakyat dengan negara. Adanya perlawanan antara masyarakat dan pemerintah.
• teori strukturasi (Anthony Giddens), menjelaskan dualitas dan hubungan diaklektis
antara agensi dan struktur. Berfokus teori hubungan antara agensi dan struktur.
Ada tiga gugus stuktur giddens yaitu diantaranya struktur signifikasi lebih kepada
makna, nilai dan struktur dominasi merujuk kepada penguasaan atas orang lain.
struktur legitimasi menujuk berdasarkan aturan normative peraturan
undang-undang.
• teori pilihan rasional (Elster), inti rational choice elster
adalah saat harus menghadapi beberapa jenis tindakan atau pilihan, adanya
referensi ketika orang akan melakukan apa yang dianggap memberikan hasil
terbaik diantara beberapa pilihan alternatif yang ada.
•
teori
konflik (Dahrendorf), Dia mengkritik Marx
mengenai teori pembentukan kelas dan teori konflik kelasnya marx yang hanya
relevan untuk tahap awal kapitalisme, bukan untuk masyarakat industri post-capitalist, Dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda: memiliki sisi konflik dan
sisi kerjasama (kemudian dia menyempurnakan posisi ini dengan menyatakan bahwa
segala sesuatu yang dapat dianalisa dengan fungsionalisme struktural dapat pula
dianalisa dengan teori konflik dengan lebih baik), Di antara perubahan-perubahan itu ialah: (1) dekomposisi modal, (2)
dekomposisi tenaga kerja, dan (3) timbulnya kelas menengah baru.
• teori post-modernism (Pierre Bourdieu, Michel Foucault, Derrida), teori yang
muncul sebagai kritik akan modernisme yang mencoba mengeluarkan masyarakat dari
ketertindasan para kaum strukturalis modernisme atau disebut dengan post-modernisme.
Sebuah perspektif menggantikan realitas modern sebagaimana Derrida
dengan teori dekontruksi bahasa dan institusi sosial jika para kaum structuralis melihat
individu dikendalikan oleh struktur bahasa
namun menurut derrida bahwa bahasa hanya sekedar tulisan yang bersifat tidak
memaksa atau dekontruksi silogisentris bahwa tulisan bukanlah sebuah paksaan
seperti yang dikatakan para kaum
strukturalisme. Dekontruksinya
adalah melakukan pembongkaran pada sebuah kontruksi yang telah ada kemudian
mentransformasikannya makna dengan cara dektruksi dan rekontruksi (dihancurkan
lalu di tata kembali), Michel foucalt dengan
keluasan pemikirannya salah satunya dengan karyanya the power of knowledge, dimana Michel foucalt adalah seorang driving force post-positivisme kritikannya pada teori pembangunan dan
modernisme. Ia mengkritik kekuasaan tidak bisa dilokalisasikan, ia tidak
memisahkan antara pengetahuan dan kekuasaan. Bourdie dengan teori strukturalis genetic nya yang menjembatani antara
objektifitas dan subjektifitas melalui teori habitusnya yang inti dari teorinya
Bourdieu berupaya menyatukan dimensi dualitas pelaku (agen) dan
struktur. Oleh karena itu pendekatannya disebut strukturalisme genetic yakni analisis struktur-struktur objektif yang tidak dapat
dipisahkan dari analisis asal usul struktur mental. Bahwa antara agen dan
kebiasaan adalah unsure yang saling berkaitan.
• teori kritis (Jurgen Habermas), seorang ahli ritical teori
yang terkenal dengan rasionalitas tindakan
komunikasi yang mengkritisi para teoritikus awal yang mengalami hambatan
dalam telaah kritik teorinya yang melampaui para kaum neo-marxis dan sekaligus
menolak gagasan para pemikir kalangan kaum marxis hanya melihat paksis dalam arti tunggal yaitu kerja dan melupakan
praksis komunikasi guna untuk mengatasi dominasi penguasa dalam lingkungan
sosial. Dicapai melalui public sphere (ruang public). inti Rasionalitas yang
bersifat komunikatif terletak di dalam kemampuan manusia untuk mencapai
kesaling pengertian terhadap manusia lainnya yang implimentasinya dalam praktik
dialog dan public untuk mencapai kesalingpengertian inilah dialetiaka tindakan
rasionalitas komunikasi dari jurgen habermas.
•
teori konstruksi sosial (Peter L Berger), Peter L Berger terkenal dengan teori kontruksi
sosialnya yang teorinya menilai individu
dalam menentukan tindakannya adalah
sebuah hasil dari kontruksi pemikiran dirinya.